SUPER BOY AND SUPER GIRL

Dua sejoli, berkekuatan yang ditakdirkan bersama



* nb: cerita ini hanya imajinasi penulis belaka, jika terjadi kesamaan nama dan kejadian, mungkin kita jodoh

 “Kriiing kriiiingg kringg…” jam bekerku berbunyi. Dan dengan segera aku terbangun dari mimpi buruk itu. Huh! Aku sangat benci dia! Kenapa sih dia selalu datang ke mimpiku? Asal kalian tahu?! Bukan hanya sekali dia datang dan mengganggu tidur lelapku, bahkan berkali-kali. Dan itu membuatku semakin muak dengannya. Ia menggentayangiku setiap malam. Bahkan hingga aku berdoa tentangnya sebelum tidur agar ia tidak mendatangiku di tidur nyenyakku. Apa karena kebencianku yang sangat dalam kepadanya hingga dia datang merusak acara favoritku? Aaarrghhh!! Asal kau tahu? Aku sangat ilfeel dengan laki-laki sok itu. Tapi kalau aku benci dengannya, mengapa aku memimpikan (ups! Sepertinya aku tidak memimpikannya, melainkan dia yang mendatangi dan merusak tidurku yang sangat mengasyikkan ini) sesuatu yang romantis  yang terjadi antara aku dan dia? Ya! Kuakui, dia memang tampan, tinggi, putih, memiliki senyum yang khas dengan lesung pipinya dan suara lembut dan terdengar penuh perhatian (dan kegenitan menurutku) dan selalu membuat cewek-cewek yang berbicara dengannya langsung klepek-klepek! Loh? Kok aku jadi memujinya? Back to the topic! Mungkin kalian berfikir mengapa aku membencinya. Ya, dibalik keluguan wajahnya sebenarnya ia sangat jorok, mandi hanya sekali, jarang menyikat gigi, dan hal lain yang tak bisa kuungkapkan karena akan  membuat kalian sangat jijik dengannya. Dan aku bisa menebak apa yang ada dibenak kalian sekarang adalah…
Bagaimana aku bisa mengetahui sifat-sifat itu… Biarkan itu menjadi rahasia ku…
Sebaliknya dengan diriku, sahabatku Jessie sangat menaruh hati kepada cowok tak seberapa dan letoy yang selalu merusak bunga tidurku itu yang biasa dipanggil Richard atau Ray (baca: rei) dan aku sangat enek, ketika sahabatku tentunya Jessie selalu memuji-muji cowok tengil yang bernama Ray itu dihadapanku. Dan kenyataan pahit yang kuterima saat ini adalah… JESSIE SAHABATKU SEMAKIN DEKAT DENGAN RAY, DAN MAU TIDAK MAU AKU HARUS BERTEMAN DENGAN SI COWOK TENGIL DAN PANDAI DRAMA YANG TENTU SAJA UNTUK MENUTUPI SIFAT BURUKNYA ITU! Dan asal kalian tahu? Aku tidak akan sudi berteman dengannya (bahkan sekalipun) kecuali dalam keadaan terpaksa, seperti saat ini! Bahkan saat itu, aku terpaksa duduk bersamanya dikantin karena ia ingin mengobrol dengan sahabatku Jessie. Dan aku secara otomatis menjadi kacang diantara mereka. Dibalik perbincangan mereka yang sangat-tidak-menarik-sama-sekali-menurutku, aku hanya menyeruput milk shake yang kupesan dengan Jessie dan teman-barunya-yang-tak-seberapa-dan-letoy-itu sambil melamun, cemberut dan bete karena tentunya aku hanya dijadikan kacang bagi mereka. Dari ekor mataku aku bisa melihat bahwa Ray sesekali melirikku penasaran. Dan saat aku sedang sangat asyik menikmati lamunanku yang seru ini tiba-tiba ada yang membuyarkan lamunanku yang sangat mengasyikan itu.
“hey! Nama kamu siapa? Boleh aku berkenalan juga? Sepertinya kamu teman dekat Jessie ya?”
Aku segera menoleh, mencari tahu siapa yang berani-beraninya membuyarkan lamunanku itu. Dan ternyata ia adalah Ray.
“Lo ngomong ama gue? Eh, lo cakep-cakep ternyata bodo ya! Di baju gue kan udah keliatan jelas nih nama gue siapa?! Nih! Gue tegesin lagi ya ke lo! Nama gue ELMIRA ROSALINE ALEXANDRIA! Lagian lo pake nanya lagi gue temen deket Jessie ato bukan! Jelas-jelas gue duduk sebangku ama dia dan jarak kita cuma 5cm!”
dan entah mengapa aku merasa jawabanku yang terakhir sangat konyol dan patut ditertawakan.
“Eh, Mir! Lo apaan sih pake bentak-bentak segala? Malu-maluin deh..” sela Jessie.
“Lo kok jadi makhluk mars paling Kepo gitu sih? Udah ah gue mau cabut! lagian gue juga gak guna ada di sini.” Tegasku.
Aku segera membuang muka dari mereka kemudian berjalan menuju toilet. Sesampainya disana aku mencurahkan semua kekesalanku dengan bercerita kejadian tadi didepan cermin. Setelah cukup puas, akupun kembali ke Kelas, dan ternyata Jessie telah berada di kelas, jauh lebih dulu daripada aku.
“Lo kemana aja sih Mir? Gue nyariin lo tau!”
“Cih! Sejak kapan lo jadi makhluk Mars paling Kepo? Mana temen lo yang tengil itu?”
“serah deh apa kata lo. Dia gue tinggal.”
“Kok lo ninggalin dia? Bukannya lo nge-gebet doi? ”
“gue ninggalin dia, dan lo masih nanya kenapa? ya buat nyariin elo lah mir!”
“Gue kira lo lebih pilih si tengil itu daripada gue.”
“ya gak lah Mir! Gile aje lo nge-judge  orang sembarangan. Gue aja baru kenal ama itu orang, masa mau ninggalin hopeng gue yang paling setia ini?”
“ternyata lo lebih peduli ama gue daripada si tengil itu. Thanks ya Jessie sayang.”
“ Sama-sama. Tapi inget, gue bukan lesbian lo yang tiap hari kudu dipanggil sayang-sayangan!”
“hehe… Sori Jess” jawab ku sambil membentuk peace dengan dua jari ditanganku.
            Jam 12.00, dan Bel sekolah berbunyi. Yeay! Saatnya pulang!!! Segera kumasukkan buku PKN ku, dan segera keluar dari kelas yang membosankan itu. Tiba-tiba, Jessie mengajakku bicara.
“Mir, lo mau temenin gue gak?”
“kemana?”
“ke hatimu.”
“Cih! Gak sudi kale gue lesbian ama lo!”
“Canda kali Mir… oh ya, ikut gue bentar yuk, ke PIM. Bentar doang kok.”
“Ngapain?”
“Gue kangen ama Starbucks.”
“cih, gaya amat lo! Terus lo kesana cuman cipika-cipiki ama si starbucks gitu? Sapasih doi?”
“Bodo lu. Starbucks itu kopi o’on! Udah lo ikut  gue aja...”
“traktir ya tapi”
“iya gampang lah. Cus buruan, sopir gue udah nunggu tuh!”
“yaudah ayo”
            Yee… akhirnya aku ditraktir juga ama si Jessie. Lumayan lah, apalagi starbucks kan minuman  mahal… jarang-jarang aku minum begituan. Hehe… Dan gak kerasa, aku dan Jessie udah nyampe aja di PIM. Dengan segera, aku berjalan menuju sebuah café yang bertuliskan ‘STARBUCKS’ dengan logo hijau dan wanita berambut panjangnya yang berwarna putih. Jessie segera memesan, dan akhirnya pesanan itu datang. Kamipun mulai menikmati minuman tersebut sambil bercerita.
“eh mir… menurut lo itu Ray gimana sih?”
“Jelek, nyebelin, sok keren, ganjen, tengil, letoy, gajelas… banyak dehh!”
“Lo kok kayaknya benci banget ama si Ray sih? Emang kenapa?”
“bukan kayaknya lagi. Gue emang benci banget ama doi. Masa dia jegal kaki gue waktu gue jalan sampe gue jatuh dan lutut gue memar!”
“hah! Masa? Emang iya si Ray setega itu?”
“dia sih bilangnya gak sengaja, katanya temennya dorong dia, terus dia kaya mau jatuh gitu. Eh gue ke jegal ama kaki si tengil itu!”
“yah, itu sih gak sengaja Mir…”
“tapikan dia jegal gue ampe memar begini Jess. Emang lo terima kalo digituin, mana dia gak minta maaf lagi!”
“terus lo apain dia abis kejadian itu?”
“ya gue marahin dia, bentak-bentakin dia. Terus lari deh ke UKS, ngobatin sendiri pula!”
“Lo kok gak cerita sih ama gue Mir?”
“maunya sih cerita, tapi guenya lupa cerita ke elo, hehe..”
“dasar! Asal lo tau? lo ama nenek gue pikunan elo Mir.”
“what?! Segitu parahnya gue?”
“Gak kok. Cuman ngerjain lo aja… weeekk”
            Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 3 sore. Aku dan Jessie pun pulang, karena nanti pukul 4 sore aku akan ada bimbingan belajar. Begitu aku sampai rumah, aku langsung mandi dan bersiap-siap mengikuti bimbingan belajar.
            Huft. Akhirnya selesai juga kegiatanku hari ini. Aku segera berganti baju dan menata kamar tidurku senyaman mungkin, dan segera mematikan lampu kamarku untuk tidur.
            Pagi yang cerah, dan aku terbangun sebelum jam bekerku berbunyi. Aku segera mandi dan sarapan, setelah itu bersiap untuk pergi ke sekolah. Dan tentu saja sebelum berangkat, aku menyalami dan mencium Ayah dan Ibuku terlebih dahulu. Setelah itu, aku langsung berangkat berjalan kaki menuju sekolah. Jarak dari sekolah dengan rumahku cukup jauh. Tapi aku telah terbiasa akan itu. Aku berjalan dengan santai sambil menghirup udara pagi ini. Tiba-tiba, ada sebuah motor ninja memotong jalanku, yang membuaku terpaksa berhenti berjalan. Wow! Dari belakang, pengendara motor itu terlihat macho dan keren. Dengan cekatan ia membuka helm dan menoleh kepadaku. Dan ternyata itu…
“Ray?! Ngapain lo sok keren didepan gue? Amit-amit deh.”
“Mir, gue disini cuma mau nawarin lo berangkat bareng ama gue pagi ini.”
“Cih, ogah banget. Lo kok tau nama gue?”
“Hahaha! Lo lupa ya? Lo kan yang bentak-bentak kasih tau nama lo kemarin di kantin yang sebenernya gue udah tau nama lo dari dulu! Ternyata lo cantik-cantik o’on juga ya?! Ahahahaha!”
Semua yang ku katakan barusan emang bodoh banget!
“udah, kalo lo kesini cuma mau ngehina-hina gue mending pergi aja sono lo ke jurang sebelum gue tendang lo sampe ke antartika!”
“buset! jahat banget sih lo mir. Sini yuk bareng gue. Lagian kan kalo ke sekolah masih jauh jalannya.”
“ogah!”
“yaudah deh, untuk permintaan maaf gue kemaren udah bikin kaki lo memar.”
“kok lo tau kaki gue memar?”
“gue ngikutin lo ke UKS abis gak sengaja kejegal kaki gue kemarin. Lagian gue mau minta maaf ke lo, lo malah ngeloyor pergi aja. Gue pengen masuk ruang UKS buat ngoatin lo + minta maaf ke elo. Tapi ternyata lo kunci ruangannya, jadi gue cuma ngeliatin lo dari luar lewat jendela UKS. ”
Ternyata dia peduli banget sama aku. Aku  jadi ngerasa special gini deh… Stop Mir! Dia itu jelek, dekil letoy, tengil! Dan dia pasti pedulinya gak suma ama kamu aja. Dia kan player abis!
“Gimana mir, mau ya berangkat bareng gue?”
“yaudah, tapi pastiin nyawa gue selamat sampe sana. Udah buruan!”
“siap kapten, nih pake helmnya dulu”
Akupun menerima helm itu, naik ke motornya dan segera memakai helm hijau yang Ray berikan padaku.
Beberapa menit telah berlalu, hingga akhirnya aku dan Ray sampai di sekolah. Ray langsung memarkirkan motornya. Akupun turun dari motornya, melepas kemudian memberikan helm hijau itu kepadanya  dan langsung berjalan menuju ke kelas. Tiba-tiba ada yang menarik tanganku
“eh, mir…kok ngeloyor pergi sih.. tungguin napa… berangkat bareng, ke kelas juga harus bareng dong..”
“lo banyak maunya deh.. iya gue bareng elooo.. duh. Tapi gak usah pegang-pegang juga kali..”
“ehehe… sorry… kalo gue gak narik tangan lo pasti kan udah ditinggalin… hehehe..”
Akhirnya, aku berjalan bersama Ray ke kelas masing-masing karena kebetulan kelas kami searah dan dipojok gedung. Jadi jalannya lumayan jauh dari parkiran. Aku pun melanjutkan percakapanku dengan Ray.
“Oya.. Thanks ya lo udah mau anter gue..”
“iya, sama-sama… emang lo tiap hari juga jalan kaki begitu ke sekolah?”
“iya… tapi kadang pulangnya gue nebeng ama Jessie.. hehehe,,,”
“mulai hari ini lo gak usah nebeng Jenny plus Jalan kaki ke sekolah lagi.. kan ada gue…”
“yekale gue mau… kalo gue gamau gimana?”
“yaah.. itu sih terserah elo… gue kan cuma nawarin doang..”
“iyadeh, gw mau, kan lumayan tuh ojek gratis. yaudah Ray, gue masuk kelas dulu ya…”
“okedey, ntar gue tunggu di parkiran ya.. bye..”
“bye..”
Akupun masuk kelas, dan segera disambut riang oleh sahabatku, Jessie. Aku langsung duduk dibangku kosong yang berada tepat di samping Jessie.
“cie… tadi jalan ama sapa tuh? Lo kayaknya udah baikan ama Ray..”
“lo aja kali yang salah liat..”
“ya gak lah, jelas-jelas gue liat kalian ngobrol..”
‘Mati lo… apa kata Jessie kalo dia tau gue berangkat bareng ama Ray? Bisa di bully abis-abisan ama dia… huh, untung dia tadi gak liat…’ Kataku dalam hati
“Um… dia tadi cuma nyapa gue dan minta maaf doang soal yang dia jegal gue waktu itu..” jawabku ngasal, tapi aku tak berbohong, karena memang kenyataannya begitu.
“ohh… yaudah… jangan bertengkar lagi ya sama tuh orang… bertengkar itu gak baik…” Jessie menasihatiku.
“iyaa Jessie-ku yang cantik, baik dan rajin menabung…” jawabku ngasal untuk kedua kalinya.
Bel masuk telah berbunyi, guru kelas mulai masuk mengajar pelajaran.
Waktu sudah menunjukkan pukul 12.00, itu berarti waktunya aku pulang. Akupun segera menuju parkiran, karena sebelumnya aku dan Ray sudah janjian kalau kami akan pulang bersama. Tak lama, aku tiba disana, dan sudah ada Ray yang sedang duduk manis diatas motornya yang ternyata sedang menungguku. Akupun langsung mendatangi dia.
“hey! Sudah lama menunggu?”
“lumayan… tadi pulang cepet, soalnya nggak pake refleksi..”
“ohh… yaudah yuk, langsung pulang..”
“ehm… langsung pulang nih? Nggak mau kemana dulu gitu mir?”
“mau kemana ya, gue gabawa duit… tadi aja makan ditraktir ama si Jessie..”
“ohh… gimana kalo kita makan dulu di café daerah kemang? Aku yang bayarin deh…”
“yaudah yuk.. tapi gak kejauhan?”
“nggak lah… lagian besok  juga libur.. ini kan hari jumat mir…”  
“oiya.. hehehe.. yuk Ray, cuss kita kesana! Perut udah nyanyi nih daritadi…”
“cih… soal traktiran aja langsung semangat… yaudah yuk, buruan naik. Nih helm nya…”
“hahaha…iya-iya yuk..”
30 menit kemudian, aku dan Ray pun makan. Kami makan di restoran Jepang (yang katanya sih) langganan Ray. Akupun makan dengan lahap sambil bercerita segala topik yang ada dengan Ray. Tak terasa, sudah pukul empat sore. Kamipun langsung pulang kerumah masing-masing.
Karena hari itu, aku dan Ray pun semakin dekat. Hingga perasaan benciku kepadanya berubah menjadi rasa yang sulit dijelaskan dengan lisan. Entah apakah Ray juga merasakan hal itu juga. Tetapi aku juga bingung, apakah rasa yang ada di lubuk hatiku ini akan memperbaik ataukah memperburuk pertemananku dengannya. Akhirnya, aku memilih untuk mengabaikan perasaan anehku ini.
            Suatu hari, Ray bertanya apakah aku menyukainya. Akupun mengatakan kepadanya bahwa aku memiliki perasaan dengannya. Dan seketika ia menghilang dari hadapanku dan akupun terbangun. Huft… ternyata itu hanya mimpi. Kemudan aku bangun dan segera membasuh wajah, sikat gigi dan berganti pakaian olahraga karena hari ini Ray mengajakku keacara Car Free Day. Kami berolahraga bersama, sarapan bersama dan jalan-jalan menikmati keindahan Jakarta jika tidak ada kemacetan. Setelah itu, kami pergi ke taman dan mengobrol.
“Mir, Lo suka gue ya? Akhirnya gue ada yang ngefans juga…”
“cih! Lo itu bukan tipe gue… tipe gue mah cakep, baik, perhatian, pinter..”
“emang gue kurang cakep apa mir? Kurang baik plus perhatian apa ke lo? Gue juga jago matematika..”
“lah terus, maksud lo?”
“ya emang gue gak pantes ya buat lo?”
“lah, kok lo ngomongnya gitu sih Ray?”
“gue ngerti kok lo suka sama gue… tapi tenang aja, ini bukan perasaan lo doang…”
“lah, berarti lo juga…”
“iya mir, gue suka lo… dari awal gue gaksengaja jegal lo. Ketika gue liat kejutekan dan sikap bossy lo, gue makin tertarik ama lo.”
“tapi lo tau darimana gue suka sama lo?”
“ya tau lah mir… guepun juga ngerti kalo lo sering mimpiin gue..”
“lo tau dari mana? Dari Jessie? Tapi perasaan gue juga gak ngomong ke Jessie soal ini…”
“yaiya lah… gue kan emang sengaja datengin lo lewat mimpi. Dan yang kemaren lo mimpi lo nyatain perasaan lo ke gue, itu juga gue yang sengaja datengin dan nanyain lo… sayangnya ucapan lo itu hanya dalam mimpi…”
“Jadi, lo datengin mimpi gue?”
“yup… ini cuma lo dan keluarga gue yang tau… gue dari lahir, punya kelebihan ‘Lucid Dream’. Jadi gue bisa datengin mimpi orang lain yang kita mau. Keren kan? Sekeren muka gue dong pasti…”
“GR banget lo! ohh.. jadi gitu, tapi ya nggak seharusnya lo datengin mimpi orang-orang seenak jidat kali!”
“yah, iya sih… sorry banget ya mir… hehehe… tapi lo suka gue kan?”
“iya, gue suka lo. Dan gue yakin lo juga suka gue…”
“optimis banget lo mir… hahaha, iyadeh gue suka sama lo… kita lebih dari temen ya sekarang…”
“iya oke, kita lebih dari temen sekarang.”
“tapi lo tau dari mana gue suka sama lo?”
Dan aku tak menjawab pertanyaan itu. Tapi kemudian…
“Ray, sebenernya gue sama kayak lo… punya suatu kelebihan.”
“maksudnya?”
“Gue bisa baca pikiran dan sikap orang lain…”

-END-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[REVIEW] Green Mango Hair Using Miranda Hair Color

Cuaca Buruk

WARNING!