Aku Mencintai Seorang Gay (cerpen)
Tawa kami yang bermunculan
seketika lenyap, digantikan oleh suara berat Aaron yang seakan mengubah duniaku
hari ini-dunia SMA dengan masa-masa bahagia yang indah.
"Iya, aku gay."
Mataku membulat lebar, mulutku menganga, sesuatu yang tidak mungkin aku lakukan
sepanjang hidupku, kalau aku tidak benar-benar berada dalam situasi yang
menyulitkan seperti ini. Sangat menyulitkan. "Maaf," katanya pelan.
Matanya menatapku intens, mencari jawaban dari binary mata yang mendadak
memudar dari bola mataku. Haruskah aku mendengar smua alasan yang ia berikan?
Aku menggeleng, bukan menolak permintaan maafnya, melainkan munutupi rasa kalut
yang mendadak menyergapku. Kalau ia gay, berarti aku menyukai seorang cowok
yang mencintai cowok lain. Mencintai cowok. Tiba-tiba, ada suatu perasaan aneh
muncul dari dalam diriku, membuatku tidak tahan untuk tidak menangis. Aku
bergeming, menatap sebagian dirinya dengan pandangan kosong dan hampa yang
hampir-hampir seperti mayat hidup. Ini tidak layak aku terima, batinku
menyangkal kencang. "Kenapa kamu nangis, Vie?" tanyanya, dalam dan
masih selembut dulu. Atau memang aku yang bodoh tidak menyadari bahwa ia memang
terlalu lembut untuk ukuran seorang cowok? "Maafin aku, Vie. Aku tahu ini
bikin kamu kaget," ujarnya dalam satu tarikan napas. "Aku juga susah
buat jujur sama kamu, tapi kamu selalu jadi bagian penting dalam hidupku, dan
aku enggak mampu lagi berbohong untuk hal sebesar ini." "Seharusnya
kamu enggak usah berbohong sama aku, Ron," jawabku tajam. Aaron terkesiap
kaget mendengar nada suaraku yang sarkastik. "Aku yang bodoh, yang
enggak pernah peka sama keadaan sekeliling aku." "Bukan kamu,
Vie-" Aaron membantah dengan cepat, otomatis menarikku ke dalam pelukannya
yang hangat dan aman-aku selalu merasa aman berada dalam pelukan itu.
"Dengar aku, Viea Ashab, kamu adalah sesuatu yang penting dalam hidup aku,
jauh lebih penting dari cowok mana pun yang aku sukai." kurasakan, dadaku
merenggang sakit mendengar pernyataan itu."Tetapi, aku juga enggak bisa
mengenyahkan perasaan aneh ini. Aku sendiri merasa jijik dengan diriku, namun
tidak berdaya melepaskannya. Kamu ngerti kan rasanya, mencintai di tempat yang
bukan seharusnya," lanjutnya. Bisikannya lembut, menyapu tulang leherku. Ak-aku
enggak tahu bagaimana harus brersikap Ron," jawabku jujur, tidak ingin
melepaskan pelukannya yang terasa begitu intens dan dalam, walaupun di sisi
lain aku tahu ia tidak akan pernah tertarik denganku. Nangis, Vie. Nangis
sepuas kamu, pukul aku sepuas kamu, sampai kamu yakin kita masih bisa temenan
seperti dulu." Aku menarik diri dari pelukannya , menatapnya lama lewat
mata yang setengah basah karena menahan tangis. Aaron, sang teman lama yang
selalu bersedia menjadi teman sekaligus kakak di waktu bersamaan. Aaron, sang
cowok yang terkadang sulit dimintai tolong, namun saat memberikan pertolongan
terasa begitu mendalam dan sulit untuk dilupakan. Aaron yang benci dengan
terang, tidak pernah berhenti berbicara atau mengejekku.
Aaron-ku telah bermetamorfosis menjadi sesuatu yang tidak aku ketahui. Lagi,
aku menarik napas, menahan segala sakit yang membludak namun tidak ingin aku
keluarkan sekarang. Aaron akan tambah merasa bersalah seandainya aku menangis
kencang dan memukulnya, karena tidak percaya dengan kata-kata yang
barusan ia ucapkan.
"Jadi, ini alasan kamu beberapa hari ini tidak masuk sekolah?"
tanyaku langsung, menatap matanya bahkan tidak melepaskan sedikit pun mataku
dari matanya. Aaron membuang mukanya, berpura-pura cuek, "Aku butuh
ngobrol banyak dengan De-err, cowok ini." Kriet-rasa sakit itu
terasa lagi, kini lebih tertusuk ke dalam. "Cowok ini?" tatapku
tajam, kembali menahan tangis yang sudah benar-benar ada di pelupuk mata. Aneh,
untuk pertama kalinya aku benci menghabiskan waktu bersama Aaron seperti ini.
"Pembicaraan seperti apa, Ron?" Aaron terdiam, bingung menjawab
pertanyaanku. Namun akhirnya ia menjawab juga. "Kami membahas banyak hal,
mengenai bagaimana hubungan kami, bagaimana kami harus melangkah sekarang,
bagaimana kami harus bisa menjalani hidup kami dengan sesuatu yang sama-sama
emm, menyakitkan." Bahkan Aaron sudah mempergunakan kata ganti 'kami'
untuk dirinya dan cowok itu.
Kutatap Aaron, tiba-tiba, sebuah ide keluar dari kepalaku, menari-nari dalam
napas dan kekalutan yang sudah tidak bisa lagi kusembunyikan. Aku menangis,
tidak seperti tadi yang hanya berupa irisan air mata, kini aku teergugu.
Menatap Aaron dengan luka yang sangat dalam, karena aku sendiri bingung
bagaimana harus menutup luka itu.
"Apa yang kamu pikirin sih, Ron? seperti ini bukan sesuatu yang pantas
untuk diperjuangkan kamu tidak pantas memperjuangkan ini. Sesuatu yang
seharusnya bukan menjadi bagian hidup kamu, sesuatu yang seharusnya kamu buang
jauh-jauh dari dalam diri kamu!" Aku mengerjap. Menarik lengan baju Aaron
kuat-kuat, melampiaskan segala macam emosi yang mendadak muncul dan tidak
terkendali dari dalam diriku-otakku. "Kamu bisa dapetin banyak wanita
cantik di luar sana, kamu tinggal pilih, kamu tinggal tunjuk mana pun yang kamu
mau. Bukan seperti ini, Aaron!"
Aaron diam menghadapi sikap garangku barusan. Aku menarik napas, menatap Aaron
dengan binary mata yang tidak bisa kudeskripsikan seperti apa maknanya.
Campuran antara sakit, kecewa dan rasa memperjuangkan yang tinggi. Aku rela
berbuat apapun asal Aaron kembali ke jalan semula. ”Maafkan aku, Viea."
Hanya itu jawaban Aaron, singkat dan menyesakkan dada. "Kamu masih punya
ketertarikan dengan wanita?" tanyaku, sangat pelan, namun cukup kencang
untuk didengar di suasana sehening ini. Aaron mengangguk, menambahkan singkat.
"Dalam beberapa case,"
jawabnya. Kutarik tubuhnya mendekat dengan tubuhku, aku memeluknya dengan
perasaan bercampur senang, sedih, takut, khawatir. Semuanya tercampur jadi
satu.
Please, buat Aaron tertarik, Tuhan!
Namun Aaron tidak menyentuh tubuhku sama sekali. Ia hanya menatapku dengan
sorot mata yang terkenang jelas dalam memoriku: indah, menikmati, namun juga
bingung. Dan...cinta.
Cinta?
"Kamu
mencintaiku, ya?" Tanya Aaron cukup kencang. Jarak kami sangat berjauhan
kini. Aku menggeleng, pura-pura polos, "Maksud kamu?" "Kamu
mencintai aku?" Aaron mengulang pertanyaannya, dengan nada yang sama-sama
kerasnya, sama ketusnya, sama sakitnya. Tetapi, lagi-lagi aku merasakan ada
aura cinta di matanya. Aku, si bodoh berkepala dua ini, ternyata tidak bisa
mensinkronisasikan apa yang ada dalam kepalaku dengan yang keluar dari mulutku.
Tindakan yang sebenarnya ingin aku lakukan adalah menyangkal kenyataan bahwa
aku memang mencintai Aaron, namun yang kulakukan malah mengangguk. Aku
mengangguk, mengartikan bahwa pertanyaan Aaron adalah benar adanya. "Aku
bikin kamu sangat sakit, ya?" Tanya Aaron lagi, kini jauh lebih lembut.
Dari nada suaranya, terdengar ada sesuatu yang lebih ceria dan segar, namun
belum bisa kutebak apa itu. Aku mengangguk, ragu.
Apakah harus kubagi semua rasaku padanya?
Nuraniku keluar kemudian, menyuarakan suara hati yang lembut dan terasa begitu
bijak; untuk yang terakhir kalinya, mengapa tidak? Sangat?" Tanya Aaron
lagi. Aku menatapnya, intens dan tajam, "Sangat," jawabku
pelan-pelan. "Kamu membuatku seperti orang bodoh, mencintai seseorang yang
harusnya aku hindari." Lagi-lagi aku menangis. Tapi bukannya kasihan
melihatku, Aaron malah tersenyum senyuman Aaron mendongkrak keheningan yang aku
ciptakan.
Aaron menarik diriku ke dalam pelukannya yang aman. Aku bergeming, terdiam pada
satu titik tak bergerak milikku sendiri. Apa maksudnya kau memelukku?
"Viea bodoh!" ujarnya pelan, menahan tawa. Aku menyipitkan mata,
"Maksud kamu?" Aaron tertawa lalu memeluk tubuhku. "I love you
too, teddy," ungkap Aaron tiba-tiba. Aku menatapnya lama, "Apa, sih,
maksud kamu Aaron?” "Aku berharap kalau aku benar-benar gay, yang menyukai
cowok dan bukan wanita bodoh yang selalu menggunakan perasaannya, tanpa
logika." Aku makin bingung, "Maksud kamu?" Aaron menarik aku ke
dalam pelukannya lagi, membiarkan mata kami bertemu dalam satu garis lurus,
"Viea, aku mencintai kamu, bukan cowok lain atau wanita lain. Well,
sebenarnya secara ilmiah, untuk diriku sendiri, aku tidak mungkin mencintai
cowok. I'm normal, Princess." Aku-seakan baru bangun dari mimpi buruk,
menatap Aaron dengan tatapan yang tidak percaya, "Ta-tapi tadi kata
kamu?" "I was just joking, enggak nyangka kamu percaya segitu
jauh," Aaron berkata seraya menahan tawa. "Enggak papa, deh. Karena
joke enggak sengaja tadi, sekarang aku enggak perlu repot-repot membaca
perasaan kamu, karena akhirnya aku tahu sendiri-err, dari mulut kamu."
Satu hal yang aku tahu, aku ingin menghilang
ditelan bumi sekarang juga, sebelum mukaku memerah seperti udang rebus, menahan
malu yang tidak bisa kusembunyikan.
*END*

Komentar
Posting Komentar