Pelajaran yang Berharga


"Halo. Assalamu'alaikum." "Wa'alaikumsalam. Vi! Besok malam kamu ada acara, enggak?" "Kayaknya enggak ada. Kenapa, Ron?" "Aku mau ngajak kamu makan malam di tempat biasa kita makan sama temen-temen.” "Kayaknya bakal ada traktiran, nih. Asik." Aku tertawa kecil di balik ponselnya. "Iya, aku traktir deh, minumnya aja, tapi." Aaron pun tertawa di seberang sana. "Kamu ini, masih aja pelit. Hitung-hitung traktiran abis pulang kampung dari Belanda." "Iya, iya. Takut banget enggak ditraktir." "Good boy." "Tapi, kita berdua aja." "Berdua?" tanyaku heran. Belum pernah Aaron secara khusus mengajaknya makan malam berdua. Biasanya mereka selalu bertujuh. "Iya, berdua. Kenapa? Enggak mau?" "Iya... iya, aku mau." aku masih memasang wajah heran. "Oke, jam tujuh aku tunggu di sana. Maaf ya, aku enggak bisa jemput kamu." "Iya. Santai aja."
            Obrolan pun berlanjut ke hal-hal yang tidak penting tapi menjadi penting bagi kami. Obrolan dua orang sahabat yang sudah tiga hari tidak bertemu karena salah satunya tengah mudik dan besok baru akan kembali.
J
Seperti biasa, hari Sabtu merupakan hari rutinku dan sahabatku, Dara, Yuri, dan Sazy, untuk shopping. Siapa lagi pencetusnya kalau bukan Dara yang mempunyai hobi itu.
            "Jam berapa sekarang?" tanyaku. Sudah sejak pukul dua siang tadi kami beraksi di mall ini."Jam empat." jawab Sazy. "Ha? Udah jam empat? Pulang yuk...." Aku mengajak ketiga sahabatku untuk pulang. "Kenapa kamu pengin cepet pulang, Vi? Kan baru dua jam," tanya Dara dengan wajah belum mau pulang. Dara memang membutuhkan waktu yang lama untuk shopping. Dara tidak akan rela kalau harus pulang jam empat karena biasanya mereka pulang sekitar jam enam. "Kamu kayak enggak tau aja, Ra. Via kan mau jalan bareng pangerannya. Aaron kan hari ini pulang dari Belanda," tebak Yuri. "Yang bener?" tanya Dara. Aku hanya bisa tersenyum. "Aaron ngajak aku makan malam berdua," lanjutku sambil menahan tertawa. "Berdua? Curang. Kami enggak di ajak? Biasanya kan kita bertiga, Gilang, dan Ian juga ikut," sahut Sazy seolah tidak terima."Jadi kamu lebih mentingin Aaron daripada kita?" lanjut Dara pula. Membuatku menjadi bingung. "Bukan begitu. Ya udah, nanti aja kita pulang," Kataku sendu."Ooo...tidak bisa, kita harus pulang sekarang, aku juga udah bosan di sini," ucap Sazy. Sazy tidak terlalu suka shopping, tapi demi kebersamaan dengan kami, ia merelakan dirinya untuk selalu ikut di rutinitas kami ini, meskipun kami pulang dengan barang yang hanya dibeli oleh Dara. "Sazy gitu, sih." Dara menunjukkan wajah cemberutnya pada Sazy-si gadis tomboy-yang sedang meledeknya. "Kayaknya bakal ada pernyataan cinta malam ini." Yuri melirikku sambil tersenyum sok yakin. "Ciieeee..." Mereka bersorak sambil mendorong-dorongku tidak jelas. Suara mereka cukup untuk membuat orang yang lewat di sekitar kami tertarik untuk melihat. "Apaan, sih, kaliaaan, itu enggak mungkiin." Aku mencoba menyelamatkan diri."Yuk, kita pulang!" ajak Sazy sambil merangkulku dan Dara.
            Dara membuka pintu mobilnya. Aku duduk di samping Dara dan yang lain duduk di belakang. Dara mulai menjalankan mobilnya. Suasana di jalan masih terlihat aman-aman saja selama sekitar lima belas menit ke depan. Namun, tidak untuk setelahnya. Saat di tikungan jalan, tiba-tiba sebuah truk muncul tak terduga di hadapan kami, dengan kecepatan tinggi, dan menuju ke arah mobil Dara. Dara berteriak kaget diikuti dengan ketiga sahabatnya. Truk itu terus melaju, sedangkan Dara mencoba mengelakkan mobilnya. Ia sadar ia tidak salah jalan dan berada di jalur yang benar. Namun, truk itu masih saja mengambil jalur mereka. Teriakan semakin menjadi saat sisi kanan mobil terkena truk karena tak sempurna menghindar dan mobil Dara miring hampir terbalik.
 Jantungku berdebar cepat tak beraturan. Sama halnya dengan Dara, Sazy, dan Yuri. Suasana santai seketika berubah mengerikan. Dunia serasa terbalik. Hitam. Dan setelah itu kami  tidak sadarkan diri.
J
Aku mulai tersadar saat tubuhku terasa diangkat untuk dikeluarkan dari mobil. Aku menyapu sekeliling dengan mataku yang buram. Mobil Dara menabrak pohon. Bagian depan mobil terbuka dengan bagian atasnya remuk dan mesin mobil mengeluarkan asap yang banyak.
            Karena tak kuat menahan sakit, akupun terduduk di tanah. Aku merintih kesakitan sambil memegangi kepalaku. Aku  melihat hari sudah gelap. Matahari tak lagi menyapaku. Terlintas di pikiranku tentang Aaron. Tentang janjiku padanya. Aku harus menemui cowok itu. Sekaligus memberitahukan tentang kondisi kami berempat saat ini.
            Pelan-pelan aku mencoba berdiri dan mencoba berjalan. Terpikir olehku mengenai kondisi ketiga sahabatku. Aku melihat Yuri, Dara, dan Sazy sedang diangkut dan sepertinya akan dibawa ke rumah sakit oleh warga sekitar. Aku merogoh kantung celanaku. Aku tidak menemukan ponsel dan dompetku. Keduanya tertinggal di dalam tasku yang berada di dalam mobil Dara. Aku mencari-cari tasnya, namun aku tidak menemukannya. Aku harus memberitahukan keadaan mereka kepada siapa saja yang mereka kenal. Tidak ada pilihan lain. Rumah makan yang kutuju berjarak dekat dari lokasi kejadian. Akupun berlari bersama luka-luka yang tergores di tubuhku.
Aku berhenti. Rumah makan itu sudah tepat di hadapanku. Aku menjejakkan kaki di sana. Suasana santai seketika menyambutku. Sangat berbeda dengan suasana sebelumnya. Aku menelusuri pandanganku ke segala sudut dan menemukan seorang cowok berkaos cokelat duduk di sebuah meja, terlihat manis dan rapi malam ini. Aku menghampiri cowok itu dan menduduki kursi yang ada di depannya.
            "Aaron. Maaf aku telat. Aku tadi...." Aku yang tadinya panik, seketika menghentikan omonganku. Aaron tidak memperhatikanku. Aaron hanya diam. "Aaron! Aaron!" Aku memanggilnya lagi. Aaron masih terdiam dan terus menatap kursi yang  kududuki. "Aaron! Hellooo...." Aku melambaikan tanganku ke wajah Aaron. Tidak ada respon apa pun dari Aaron. Seakan Aaron tidak menyadari kehadiranku.
Aku melihat sebuah mawar putih terletak rapi di atas meja kami. Di sebelahnya terletak sebuah kotak musik. Aku tersenyum menatap Aaron. 
J
Aaron masih terdiam. Sudah satu jam ia menunggu.  “ Via gadis yang disiplin. Ia tidak pernah telat, apalagi selama ini. Ponselnya pun tidak dapat dihubungi. Aku sudah mencoba menghubungi Yuri, tapi ponsel Yuri juga mati.” Gumamnya didepanku.  Kekhawatirannya membuatnya bingung dan termenung, menunggu jawaban yang entah kapan datangnya.
            Aku  ikut terdiam. Tanganku tergerak untuk mengambil mawar putih yang ada di hadapanku, meskipun aku tidak tahu apakah mawar itu akan diberikan kepadaku  atau tidak. Namun, tanganku terhenti ketika aku mendengar Aaron memanggilku.
            "Via." Aaron tersentak lembut dari lamunannya sambil menyebut namaku. Namun, setelah itu, Aaron tidak merespon apa pun. Seolah-olah ia tidak melihatku.
            Aku semakin heran. Beribu pertanyaan seketika menumpuk di kepalaku. Aku mulai merasa takut. Dan ketakutanku semakin nyata saat darah segar mengalir dari pelipis kananku. Aku memegang darah itu. Akupun kaget. Bibirku terasa kelu.
            "Aaron?!" sapa seorang gadis yang tiba-tiba datang menemui Aaron.  Wajah yang tidak asing bagi ku seketika muncul."Sani." Aku terheran. Semua ini membuatku bingung luar biasa. Kenapa Sani tiba-tiba muncul. "Eh, hai, San!" balas Aaron. "Boleh aku duduk di sini?" tanya Sani lembut. Ia menunjuk bangku yang sedang kududuki. Aku semakin bingung. Sani pun menduduki kursi yang kududuki setelah Aaron menyilahkannya. Dan… Tembus! Sani dapat menembus tubuhku! Aku semakin panik. akupun berdiri, mataku bergantian melihat Aaron dan Sani. Tatapan nanar menguasaiku. Aku menangis. Aku baru menyadari kondisi tubuhku yang penuh darah. Tangan, kaki, dan badanku, penuh dengan luka. Dan kepalaku masih mengeluarkan darah. Aku berlari meninggalkan rumah makan itu. Meninggalkan Aaron. Dan juga Sani. Aku terus membatin. Apakah hidupku telah berakhir? Apa semuanya tinggal kenangan? Keluargaku. Sahabat-sahabatku. Terputar bagai memori yang sayang untuk dihilangkan. Aku masih tidak menyangka kecelakan tadi telah menghilangkanku dari dunia nyata. Ini semua terjadi begitu cepat. Ketakutan dan kepanikan terus melekatiku.
            Aku ingin ke rumahku untuk melihat paras keluargaku yang terakhir kali. Aku berlari. Terus berlari. Dengan air mata yang sudah ribuan kuteteskan. Namun sebuah batu menghentikan pelarianku. Aku terjatuh. Tidak sadarkan diri.
J
            Aku berada di suatu tempat gelap. Beratapkan langit kelam. Aku melihat sesosok manusia yang sangat ku sayang dan ku rindukan. Kak Adif. Kakakku yang meninggal karena kecelakaan sekitar tiga tahun yang lalu. Kak Adif sedang melihat ku. Walau hanya sedikit dan samar-samar, Aku dapat melihat senyuman Kak Adif yang sering Kak Adif  berikan padaku dulu. Setelah itu,  Kak Adif melangkah pergi. Aku memanggil Kak Adif  berkali-kali sambil mengejarnya dengan cepat. Namun, lari Kak Adif lebih cepat. Aku terus memanggil. Dan tiba-tiba muncul sinar putih yang sangat menyilaukan. Aku melihat kakakku hilang dalam sinar itu. Dan Aku hanya melihat seberkas cahaya putih yang menyilaukan mataku. "Kak Adif.... Kak Adif...." Suaraku terdengar lemah dan serak. Pandanganku samar-samar."Via...." terdengar lembut suara Aaron menjawab suaraku sambil menggenggam tangan kananku dengan kedua tangannya."Kak Adif...." "Via, Kak Adif udah enggak ada, Vi." "Tapi... tadi aku lihat Kak Adif, Ron." "Kamu pasti mimpi Kak Adif, kan? Dari tadi, kamu manggil Kak Adif terus." "Ron. Apa aku masih hidup?" tanyaku dengan penuh harap."Kamu bicara apa,Via? Apa kepala kamu terbentur sangat keras tadi? Kamu masih hidup, Vi." Aaron menjawab dengan nada lembut bercampur heran. “Alhamdulillah. Ya Allah, begitu baiknya Kau padaku, memberikan aku kesempatan untuk hidup lagi setelah semuanya terasa hilang.” Batinku . "Ini di mana?" tanyaku sambil melihat-lihat seisi ruangan."Di rumah sakit." Jawab Aaron sambil tersenyum. "Di mana Dara, Yuri, dan Sazy?"tanyaku dengan rasa penasaran. "Syukurlah kamu enggak hilang ingatan," ledek Aaron. Aku tersenyum. "Kamu jangan banyak pikiran dulu. Mereka udah mendingan. Kamu yang paling gawat. Sejak kecelakaan itu, kamu koma dan sekarang baru boleh dijenguk dan baru sekarang juga kamu sadar." Jawab Aaron sambil menenangkanku. "Memangnya sekarang hari apa?" tanyaku."Minggu. Tepatnya, malam Senin." "Hah?" Aku terkejut, namun seketika aku kembali normal. "Oh iya, Papa dan adik kamu udah pulang. Mama kamu udah tidur di sofa. Ini udah jam satu lewat soalnya. Sedari tadi kamu ditungguin, tapi enggak sadar-sadar," lanjut Aaron. "Oh. Maaf." Mata kami saling bertemu sambil tersenyum. "Ron, kemarin, kamu ngapain aja sama Sani?" Aku mencoba bertanya. Aku ingin memastikan benar tidaknya apa yang ku lihat waktu itu. Aaron terlihat terkejut. "Malam itu, aku datang Ron. Aku memenuhi janjiku untuk datang malam itu. Tapi, kamu enggak bisa ngeliat aku," lanjut ku."Maksud kamu? kamu datang, tapi aku enggak bisa ngeliat kamu.... Maksudnya?" "Kenapa kamu enggak bisa mencerna omonganku, sih? Kamu enggak percaya?" "Kamu, kamu bercanda, kan? Kamu masih di tempat kecelakaan waktu itu, Via." Aaron masih heran tidak percaya. "Aku serius Aaron. Benar kan kamu kemarin sama Sani?" tanyaku lagi. "I...iya. Tapi, cuma sebentar. Sani kebetulan melihatku waktu itu. Berarti kamu ngeliat aku sama Sani malam itu, Vi?" tanyanya masih dengan wajah tidak percaya. "Tapi, kamu enggak cemburu, kan?" ledek Aaron.

"Aaron apaan sih…" Aku berubah manja. "Aku kira itu juga mimpi. Ternyata enggak, ya." Aku masih menyimpan tanda tanya tentang Aaron dan Sani. Sementara Aaron masih berkelahi dengan pikirannya dan dengan apa yang baru saja ia dengar. "Mawarnya, untuk Sani, ya?" lanjutku  ingin menghentikan rasa penasaranku. "Hah? Kamu liat juga? Astaga. Aku masih enggak percaya, Vi." Aaron terdiam. Aku tidak pernah berbohong padanya. "Ini mawar yang kamu lihat?" Aaron mengambilnya dari atas meja. Aku mengangguk. "Ini buat kamu. Herannya, mawar ini masih segar." Aku mengambil mawar putih itu dan tersenyum senang. Aaron mengambil kotak musik yang ingin diberikannya juga padaku. "Kamu lihat ini juga?" tanya Aaron. Aku mengangguk. Aaron membuka kotak musik yang dipegangnya dan sebuah melodi keluar dari kotak itu. Musik favorit kami terdengar lembut di ruangan sepi itu. Canon. Musik yang ku perdengarkan pada Aaron saat pertama kali kami bertemu. Kami saling menatap. Saling tersenyum. Pada kejadian ini kami belajar, bahwa hidup kita tidak ada yang tahu, kecuali Tuhan yang telah mengatur hidup kitaJ


{SELESAI


Komentar

Postingan populer dari blog ini

[REVIEW] Green Mango Hair Using Miranda Hair Color

Cuaca Buruk

WARNING!