Sahabat jadi Cinta
Hai, aku Sasha. Aku punya sahabat yang paling baik,
dia cowok. Namanya Roy. Dia lucu, baik, perhatian dan pastinya asik. Kita
bagaikan Upin & Ipin. Saling klop satu sama lain, saling peduli dan kita
juga punya banyak kesamaan. Dan kesamaan itupun selalu nggak disengaja.
Awal
bertemu dengan Roy, sewaktu aku kelas 2 SMA di salah satu SMA yang cukup
terkenal di Jakarta. Maklum, aku murid pindahan dari SMA lain dari kota asalku,
yaitu Bangka Belitung. Oh iya, aku pindah ke Jakarta karena Aku dan Keluargaku
harus mengikuti kepindahan pekerjaan Ayahku, yaitu menjadi General Manager di
suatu perusahaan besar di Jakarta. Aku cukup senang, karena aku akan tinggal
dikota besar dan aku akan mempunyai banyak teman. Tetapi disisi lain, aku juga
sedih harus meninggalkan teman-temanku dan sahabatku di Bangka Belitung.
Saat
itu, aku masih belum kenal dengan teman-teman baruku. Aku pun dipersilahkan
oleh Ms. Ayu untuk memperkenalkan diriku didepan kelas. Ms. Ayu adalah wali
kelasku. “Hai, namaku Sasha. Aku dari Bangka Belitung. Salam kenal!” ucapku
sambil tersenyum. “Ada pertanyaan anak-anak?” Tanya Ms. Ayu. “Nggak bu..” jawab
teman-teman. “Oke, baiklah. Sasha, kamu bisa duduk disamping Roy.” Kata Ms. Ayu
sambil menunjuk bangku kosong yang berada di pojok kelas. Akupun segera duduk dibangku
yang kosong disamping Roy. “Hai, aku Roy. Salam kenal ya…” kata Roy dengan
lembut. “Aku Sasha, salam kenalmu aku terima dengan baik..” jawabku. “iya, aku
udah tau tau namamu Sasha. tadi kamu udah ngomong.” Jawab Roy. “Siapa tahu kamu
lupa.. Bodo lu! Hahaha…” jawabku sambil bergurau. “Dasar, anak baru udah
songong nih. Mau adu balap karung sama gue? Kalah 6-0 lo! Hahaha.. Just Kidding…” balas Roy dengan
mengangkat dua jarinya sambil tersenyum. Entah mengapa aku jadi lebih dekat
dengan teman lawan jenisku ini. Dan biasanya aku kurang bisa berbaur dengan
teman lawan jenis.
Bel
Istirahat pun berbunyi. Anak-anak segera keluar kelas dan membeli makanan di
kantin. “Lo mau ikut gak?” Tanya Roy. “emang mau kemana?” tanyaku. “ke kantin.
Ikut yuk, kalo lo nggak makan nggak papa deh, pokoknya temenin gue.” Ajak roy
sambil memegang dan menarik tanganku menuju kantin. Roy menggenggam tanganku,
dan menuntunku jalan menuju kantin. Ia pun segera mencari tempat duduk, dan
memesan makanan. “lo mau mesen apa Sha?” Tanya Roy. “Gue nggak deh…” jawabku.
“Loh kenapa?” Tanya Roy. “Lupa, nggak bawa duit. Hehee..” jawabku sambil
tersenyum malu. “Yaudah deh, sini gue bayarin..” jawab Roy. “aduhh.. nggak usah
kali Roy, gue jadi nggak enak nih..” ucapku. “Udah lah, nggak papa… santai aja…
jadi lo mau mesen apa?” Tanya Roy kembali. “emm…. Gue ngikut lo aja deh..”
jawanku. “oke deh, tunggu ya, gue mesen dulu…” jawab Roy. Roy memesan 2
milkshake chocolate dan 2 burger. Pas banget sama makanan favoritku waktu dulu
di kantin sekolahku dulu di Bangka Belitung.
“enak
gak Sha makanannya? ini makanan favorit gue kalo di kantin.” Tanya Roy. “enak
banget. Dulu waktu gue masih di Bangka Belitung, makanan favorit di kantin
sekolah gue juga ini… milkshake chocolate sama burger..” jawabku sambil meneguk
milkshake. “ih, kok sama? Hahaha…” sambung Roy. “hahaha.. iya..” jawabku.
Sejak
itu, aku dan Roy mulai dekat. Kita sering Chatting berdua. Dan suatu ketika,
Roy bilang kalo dia ngerasa klop banget sama aku. Akupun juga mengatakan hal
yang sama. Akhirnya aku dan Roy pun bersahabat. Setelah kita bersahabat,
kita makin dekat. Kita sering curhat,
sharing satu sama lain, ngerjain tugas bareng, olahraga bareng dan dia juga
sering main kerumah ku malem-malem sambil bawa martabak favorit kita dan makan
bareng. Hahaha… pokoknya seru deh. Sampai-sampai, temen-temen di sekolah bikin
slogan “Dimana ada Sasha, pasti ada Roy.” Dan itu emang bener. Ada juga temen
sekelas yang sukanya bilang ke Roy “Lo
itu cocok ama si Sasha, udah buran tembak, Dor! Terus jadian deh..” aku dan Roy
hanya tertawa melihat respon mereka tentang kami berdua.
Suatu
saat, entah kenapa Roy selalu menghindariku. Aku bingung, akhirnya karena aku
penasaran, aku mengikuti Roy tanpa sepengetahuan dia. Akupun melihat Roy dengan
Andien, cewek yang akhir-akhir ini sangat dekat dengan dia. Hatiku serasa
hancur berkeping-keping, dibuang kelaut kemudian sakit seperti dicabik-cabik
oleh hiu yang ganas ditengah laut. Akupun segera berlari dan menangis di ayunan
taman belakang sekolah yang memang sangat sepi. Aku sangat kecewa. sejak itu,
akupun berusaha menjauhi Roy dan cuek kepadanya. Berbeda 180 derajat dari yang
dulu.
Tanpa
sepengetahuanku, ternyata kedekatan Roy dan Andien hanya sekedar ingin curhat,
tidak ada hal special dari mereka. “Gue sayang banget sama Sasha, tapi kalo dia
nggak sayang sama gue gimana? Sebenernya gue suka sama dia sejak pertama kali
dia duduk bareng sama gue. Dia baik, perhatian, asik. Tapi gue takut An, gimana
menurut lo?” Tanya Roy kepada Andien. “ Kalo lo emang bener-bener suka dan
sayang sama si Sasha, lo harusnya ungkapin dong! Mau sampe kapan lo begini
terus?” Kata Andien kepada Roy. “Terus gue harus gimana?” Tanya Roy. “Bodo lu!
Ya tembak lah! gimana sih lo!” jawab Andien dengan nada kesal.
Suatu
hari, Roy datang mendekatiku saat aku sedang bernostalgia disaat masa-masa aku
dengan Roy masih berhubungan baik, belum saling menjauh seperti ini. “gue tau,
lo lagi flashback kan masa-masa kita waktu lagi baik kan? Gue..” “Udah lo mending
diem deh… gue benci sama lo!” aku pun memotong perkataan Roy dengan nada keras
sambil berjalan membalikkan badan. “GUE SAYANG SAMA LO! SEMAKIN LO BENCI,
SEMAKIN GUE CINTA SAMA LO!” teriak Roy. DEGG! Jantungku serasa akan berhenti.
Dugaanku selama ini salah. Yang ku kira Roy mulai meninggalkanku, ternyata ia…
akupun membalikkan badan “gue juga sayang sama lo… tapi kenapa lo jauhin gue?”
tanyaku kepada Roy. “Gue cuma takut…” kata Roy dengan paras bingung. “takut
apa?” tanyaku. “gue takut kalo gue makin sayang sama lo. Dan gue juga takut
dengan gue makin sayang sama lo, gue jadi ngerusak persahabatan kita…” jawab
Roy. “lo nggak perlu takut. Karena gue juga makin sayang sama lo, dan itu nggak
akan bikin ngerusak persahabatan kita. Gue malah seneng, dengan lo ungkapin
perasaan lo, kita jadi lebih dari biasanya”
jawabku sambil tersenyum. Akupun menamai perjalanan first love ku dengan Roy dengan nama.. “Sahabat jadi Cinta”
-THE END-

Komentar
Posting Komentar